Maulid Nabi, antara Pro dan Kontra

Mendekati tanggal 12 rabi’ul awal 1432 H (15 februari 2011) banyak sekali Pro dan Kontra tentang perayaan maulid, di media yang sederhana ini saya mencoba mengupas secara sederhana tentang pro kontra tersebut dengan bijak, memberi solusi sederhana  tanpa menggurui apalagi mencaci pendapat Salafusshalih –wal ‘iyadzu billah

Tanggal 2 agustus 570 Masehi bertepatan dengan hari senin tanggal 12 rabi’ul awal tahun gajah lahirlah seorang bayi dari rahim Aminah binti wahab dari sulbi Abdullah bin abdul muthalib. Bayi Quraisy ini di beri nama Muhammad. Sekte Syiah mempercayai bahwa Nabi Muhammad di lahirkan pada hari jum’at tanggal 17 rabi’ul awal, beberapa ahli hadis berpendapat Muhammad lahir pada tanggal 9 rabi’ul awal. Kesemuanya ini adalah ijitihad dan pedapat para ulama salaf dan khalaf. Karena Rasulullah tidak pernah menyebutkan tanggal berapa beliau lahir, beliau hanya menyebutkan hari dimana beliau lahir.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)

Sebelum saya membahas lebih dalam dan merincikan pendapat para ulama tentang perayaan Maulid, perlu di ketahui bahwa permasalahan perayaan maulid nabi besar Muhammad SAW adalah permasalahan furu’iyyah (cabang) dan bukan masalah pokok, dan hal ini sangat sering terjadi di kalangan umat. Yang harus di fahami dari permasalahan furu’iyyah adalah jangan saling menyalahkan apalagi mencaci ulama yang berpendapat di permasalahan tsb, jikalau sebagian dari mereka mengatakan bahwa maulid itu bid’ah maka kita harus menghormati begitupun jika ada sebagian dari ulama membolehkan perayaan maulid.

Ada dua pendapat tentang perayaan Maulid :

  1. Perayaan Maulid hukumnya bid’ah, diantara para ulama yang mebid’ahkan antara lain : Syekh sholeh ibn ‘utsaimin, Syeikh Albani, Ibn baz maupun ulama salafiy (atau biasa di sebut wahabi) lainnya. karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut pernah di lakukan oleh Rasulullah, atau di anjurkan langsung.  Hal ini pun tidak pernah di lakukan oleh para sahabat Rasulullah SAW (Sabdanya : ‘alaikum bisunnati, wa sunnatil khulafaurrasyidiina mimba’di…) Berpeganglah kalian kepada sunnah-sunnahku dan sunnah-sunnah khulafa Ar-rasyidin

Diantara Dalil-Dalil pengharaman maulid :

  1. Hadis Nabi SAW :  “Setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya adalah di neraka”
  2. Hadis Nabi SAW : “Barang siapa yang membuat sesuatu yang baru di dalam urusan kami (dalam hal ini agama) apa yang tidak darinya, maka amalan tersebut tertolak”
  3. Qiyas : Perayaan maulid seperti perayaan kelahiran yesus kristus setiap tanggal 25 desember yang  selalu di rayakan oleh umat kristiani
  4. Perayaan maulid tidak pernah di lakukan oleh Rasulullah SAW maupun para Sahabatnya

Syekh Muhammad bin sholeh al’utsaimin berkata di majmu fatawa (kumpulan fatwa) beliau : “Dalam bid’ah-bid’ah maulid Nabi yang terjadi setelah berlalunya tiga generasi mulia, yaitu para sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in- terdapat pula kemungkaran yang dilakukan oleh orang-orang yang merayakannya, yang bukan dari pokok ajaran dien. Terlebih lagi terjadinya ikhtilath (campur baur) antara laki-laki dan perempuan. Dan masih banyak kemungkaran-kemungkaran yang lain”.

  1. Perayaan Maulid hukumnya adalah boleh (bersyarat). Diantara ulama salaf dan khalaf yang membolehkan adalah : ibn Hajar Al’asqalani, imam Jalaluddin As-Suyuthi, Dr. Yusuf Qardhawi dan beberapa ulama kontemporer lainnya.

Diantara Dalil-dalil yang membolehkan Maulid :

  1. Katakanlah (Muhammad), sebab keutamaan dan rahmat Allah (kepada kalian), maka bergembiralah kalian. (QS Yunus, 58)

Ayat ini mengarahkan kita untuk bergembira (tapi tidak yang berlebihan)

  1. Qiyas : cerita tentang pembebasan budak tsuwaibah oleh abu lahab karena memberi kabar tentang kelahiran Rasulullah SAW. Pada suatu ketika Abbas bin Abdul Muthalib bermimpi tentang abu lahab, lalu beliau bertanya tentang kondisinya? Lalu abu lahab menjawab : Aku tidak menemui kebaikan sedikit pun, kecuali tatkala aku memerdekakan hambaku Tsuwaibah. Hal inilah yang meringankanku dari siksaan setiap hari senin (diriwayatkan oleh Imam bukhari dan ibn hajar al’asqalani) kalau seorang yang kafir saja diringankan siksaannya karena bergembira di hari kelahiran Rasulullah SAW, apalagi muslim?
  2. Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. (QS. al-Anbiya : 107)

Sebagian Perkataan Para ulama tentang perayaan maulid :

A. Sekitar lima abad yang lalu Imam Jalaluddin as-Suyuthi (849 H – 911 H) menjawab bahwa perayaan Maulid Nabi SAW boleh dilakukan. Sebagaimana dituturkan dalam Al-Hawi lil Fatawi :

“Ada sebuah pertanyaan tentang perayaan Maulid Nabi SAW pada bulan Rabiul Awwal, bagaimana hukumnya menurut syara’. Apakah terpuji ataukah tercela? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala ataukah tidak? Beliau menjawab: Menurut saya bahwa asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah al-hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mulia”. (Al-Hawi lil Fatawi, juz I, hal 251-252)

B. Ibn Taimiyyah (Guru ibn Qayyim Aljauzi) berkata : “Orang-orang yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi SAW akan diberi pahala. Begitulah yang dilakukan oleh sebagian orang. Hal mana juga di temukan di kalangan Nasrani yang memperingati kelahiran Isa AS. Dalam Islam juga dilakukan oleh kaum muslimin sebagai rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi SAW. Dan Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka atas kecintaan mereka kepada Nabi mereka, bukan dosa atas bid’ah yang mereka lakukan”. (Manhaj as-Salaf li Fahmin Nushush Bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 399)

DR. Yusuf Qardhawi adalah salah satu ulama yang membolehkan perayaan maulid akan tetapi beliau tidak membenarkan jika perayaan tersebut diisi dengan hura-hura, berunsurkan syirik, iktilath (campur) antara lelaki dan perempuan, mubazir makanan dan harta, berkurban untuk alam, berdesak-desakan sehingga menyebabkan bentrok, dan hal-hal lainnya yang bertentangan dengan syariat. Namun jika, peringatan maulid itu dalam rangka mengingat kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW, mengingat kepribadian beliau yang agung, mengingat misinya yang universal dan abadi, misi yang Allah swt tegaskan sebagai rahmatan lil’alamin.

Ketika acara maulid seperti demikian, alasan apa masih disebut dengan bid’ah? Pernyataan beliau yang dimuat dalam media online pribadi beliau itu juga ditambahkan: “Ketika kita berbicara tentang peristiwa maulid ini, kita sedang mengingatkan umat akan nikmat pemberian yang sangat besar, nikmat keberlangsungan risalah, nikmat kelanjutan kenabian. Dan berbicara atau membicarakan nikmat sangatlah dianjurkan oleh syariat dan sangat dibutuhkan.

Untuk mereka yang membid’ahkan dan mengharamkan maulid harus mengetahui ada di Negara mana mereka berada?  Jika berada di Indonesia (contohnya) yang mayoritas penduduknya merayakan maulid lalu tiba-tiba mereka membid’ah-bid’ahkan orang-orang yang merayakan maulid dengan dalih berda’wah , apa yang akan terjadi? Umat pun akan lari dari dakwahnya  akan tetapi jika mereka meng-ishlah dari dalam dengan cara membenarkan cara perayaan maulid yang tidak bertentangan dengan syariat, bukankah lebih baik?

Sebaliknya jika mereka berada di Saudi Arabia atau Negara-negara yang mayoritas penduduknya tidak merayakan dan pemerintahnya pun melarang, ya sebaiknya jangan di lakukan. Ini yang di namakan fahmu maydan Adda’wah (atau memahami lapangan da’wahnya) Sesungguhnya da’wah itu hangat dan memberi kehangatan kepada orang-orang yg terpanggil untuk selalu berada di jalanNya.

Saya teringat perkataan salah satu ulama mekkah Syaikh Muhammad bin ‘alawi Al-maliki di kitab (Mafahim yajibu an tusahhah 224-226) beliau berkata : “Sesungguhnya perkumpulan (Maulid) ini merupakan sarana yang baik untuk berdakwah. Sekaligus merupakan kesempatan emas yang seharusnya tidak boleh punah. Bahkan menjadi kewajiban para da’i dan ulama untuk mengingatkan umat kepada akhlaq, sopan santun, keadaan sehari-hari, sejarah, tata cara bergaul dan ibadah Nabi Muhammad SAW. Dan hendaknya mereka menasehati dan memberikan petunjuk untuk selalu melakukan kebaikan dan keberuntungan. Dan memperingatkan umat akan datangnya bala’ (ujian), bid’ah, kejahatan dan berbagai fitnah”.

Yang harus dan perlu di ingat pula perayaan maulid ini adalah salah satu sarana pengingat kita agar terus menghidupkan sunnah-sunnahnya dan menjauhi apa yang di larang Allah dan rasulNya, menghadiri perayaan maulidpun bukan tolak ukur kecintaan kita kepada Rasulullah SAW akan tetapi sepulang dari acara tsb kita bisa selalu mengingat dan mengamalkan apa-apa yang sudah kita dapati di Seminar/Perayaan Maulid tadi, dan membuat Rasulullah SAW bangga kepada kita

Ketahuilah kawan, kecintaan kita kepada Rasulullah SAW adalah wajib, akan tetapi tidak cukup hanya kecintaan semata, lebih dari itu beliau harus lebih anda cintai melebihi segala sesuatu termasuk diri kita sendiri.  Barang siapa yang mencintai sesuatu maka ia akan mengutamakannya dan berusaha menirunya.

“Keta’atan dan Ittiba’ (sikap mengikuti) adalah buah dari Mahabbah (rasa cinta) dan tanpa keduanya cinta tidaklah benar”.

Wallahu ‘alam bisshowab

oleh: Idrus Salim Al Jufri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: