Relevansi nilai-nilai Pendidikan Akhlak yang terdapat dalam Kitab Ta’lim Al-Muta’allim dengan pendidikan masa kini.

Sebenarnya Kitab Ta’lim Muta’alim bukanlah kitab yang baru dalam dunia pendidikan. Kitab ini ditulis oleh Imam Al-Zarnuzi yang dapat dijadikan pedoman pembelajaran bagi para mahasiswa untuk mendapatkan kecemerlangan ilmu. Yang menarik adalah, kitab ini menekankan adab-adab yang mesti dipatuhi dalam memcari ilmu, yang terkadang kita pun lupa tentang pentingnya menjaga adab ini, sehingga ilmu yang kita peroleh hanya ilmu kontemporer, yang tidak dapat diwarisi dan tidak dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dunia akhirat.

Saat ini kita bisa merasakan krisis ilmu, dimana kita tidak lagi bisa membuat karya agung seperti para pakar ilmu sebelum tujuh abad yang lalu. Krisis ilmu terjadi karena menurunnya adab yang terdapat pada umat manusia, dimana Prof. Syed Naquib Al-Attas menyebutnya sebagai “Leading of Levelling”, yaitu hilangnya ‘adab’ sudah mewarnai komunitas secara keseluruhan. Salah satu tanda dari hilangnya adab adalah munculnya pemimpin pemimpin yang sesungguhnya tidak memiliki kualifikasi sebagai pemimpin ummah, yang tidak memiliki moral yang tinggi, intelektual dan spiritual yang dibutuhkan, tetapi sayangnya, orang-orang tersebut mendominasi tampuk pemerintahan secara keseluruhan.

Sebelum kita membahas Ta’lim Muta’allim, mari kita membahas adab terlebih dahulu. Adab adalah pengakuan dan kesadaran diri kita sebagai Abd Allah, dimana kita memiki kepintaran dalam menempatkan diri, memiliki kemampuan dalam menetapkan yang benar pada tempat yang benar, dapat berbuat adil, dan menyinari orang-orang sekitar dengan penuh ketakwaan (Ustad Zhulkeflee H. Ismail).

Sekarang, apa hubungannya adab dengan dunia pendidikan? Menurut Syed M. Naquib Al-Attas, pendidikan bertujuan untuk memproduksi manusia yang baik, berbudi luhur, serta memiliki kualitas dan keunggulan. Dengan ilmu yang dimiliki, seseorang akan menjadi lebih bertakwa kepada Allah SWT, dan kebaikannya akan terpancar dalam setiap tindak tanduknya. Sekarang, mari kita kembalikan kepada diri kita sendiri, apakah ilmu yang kita miliki membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dan berkualitas seperti keterangan diatas, atau malah sebaliknya.

Hal ini terjadi bisa jadi karena kita lupa, bahwa sesungguhnya Ilmu adalah ‘hadiah’ yang otoritas pemberiannya hanya dimiliki oleh Allah SWT. Pendek kata, kalau bukan karena Rahmat dan Karunia yang besar dari Allah SWT, belum tentu kita dapat mempelajari ilmu-ilmu yang kita pelajari saat ini. Oleh karena itu, kita yang berada di IIUM, mestilah bersyukur karena kita memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu, walaupun tidak semua ilmu yang kita pelajari adalah ilmu ketawhidan. Meskipun demikian, kita harus tetap bersyukur, karena kita berada pada universitas yang membahas Islamic worldview pada ilmu-ilmu yang kita pelajari.

Sekarang kita semakin mengerti hubungan antara adab dengan pendidikan. Bagi siapa saja yang mendapatkan ilmu, sebaiknya tidak boleh menyombongkan diri atas ilmu tersebut, karena sungguh ilmu itu adalah anugerah yang diberikan oleh Allah. Berbahagialah kepada teman-teman yang diberikan ilham,  diberikan kemudahan dalam mendalami ilmu. Tetapi kita harus ingat, janganlah kita sombong akan ilmu yang kita miliki. Jangan sampai ilmu tersebut dicabut oleh Allah SWT, karena sungguh, semua itu adalah hak progratifNya Allah SWT. Bagi teman-teman yang diberi kemudahan menghafal dan menulis, panjatkanlah syukur kepada Allah SWT setiap waktu, dan berlaku zuhudlah sehingga ilmu itu bermanfaat di  dunia dan akhirat, Insha Allah.

Selanjutnya, kitab tersebut membahas adab ang berkaitan dalam mendapatkan ilmu. Adab tersebut akan dibahas satu persatu.  Pertama, kita harus memiliki adab kepada Allah Swt, berupa menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Adab disini contohnya adalah bertakwa, zuhud, sabar, bergaul dengan yang baik dan mengajak kebenaran, mencari ilmu yang bermanfaat, takut dosa, bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tidak pemalas, pemaaf dan tidak bermusuhan, menjaga lisan, dan yang paling penting adalah menghormati guru atau dosen kita. Adab disini juga termasuk menghindari maksiat, mengurangi makan dan tidur, tidak melihat symbol salib, rajin menggosok gigi, dan yang terpenting adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an. Disamping itu, kita juga harus memperbanyak doa kita dan atau meminta didoakan. Doa ini harus sungguh-sungguh dan disertai kesungguhan. Kita tidak boleh memanjatkan doa dengan seenaknya seolah-olah kita tidak membutuhkan wushulnya doa, misalnya saja disamping berdoa kita juga melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Adab yang kedua adalah, kita harus belajar sungguh-sungguh, rajin mengkaji atau tekun mengulang pelajaran yang kita pelajari. Sesuai dengan pepatah, siapa saja yang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh, ia akan mendapatkannya.

Yang ketiga adalah berusaha untuk menulari gurunya. Tabiat, watak dan karakter itu dapat ditulari. Kedekatan seseorang dengan orang lain akan mengakibatkan penularan. Insha Allah tabiat guru akan menular kepada muridnya. Sekarang kita kembalikan kepada strategi masing-masing individu dalam mencari guru yang akan dijadikan pembimbing, penuntun dan pentransfer ilmu. Strategi dalam mencari teman belajar juga penting, seperti berteman dengan yang malas secara otomatis kita akan ikut malas, dan begitu pula sebaliknya.

Selanjutnya adalah, kita juga harus memuliakan guru atau dosen selaku shohibul ilmi. Sungguh, para pencari ilmu tidak akan mendapatkan kemuliaan ilmu jika tidak menghormati ilmu itu sendiri dan juga guru atau dosennya. Disamping itu, kita juga dianjurkan untuk membuat catatan tentang materi pelajaran, agar bisa kita lihat kembali disaat yang dibutuhkan.

Dan yang tak kalah pentingnya adalah, tawakkal nya kita dalam menuntut ilmu tersebut. Jangan ambil pusing terhadap masalah rezeki, karena Allah SWT sudah mengaturnya. Hal ini berkaitan dengan nilai yang berusaha kita raih setamatnya kita mempelajari ilmu tersebut. Sungguh, ilmu itu milik Allah SWT, mari kita kembalikan semuanya kepada Allah SWT. Yang terpenting adalah kita telah menunjukkan usaha keras kita kepada Allah, sehingga selanjutnya biarlah urusan nilai menjadi urusan Allah SWT. “We do the best, Allah do the rest”.

Kita juga harus yakin bahwa manfaat yang didapat dari orang yang menuntut ilmu, tidak hanya didunia ini saja namun juga di akhirat. Maka dari itu, mari kita sama-sama memohon kepada Allah SWT, untuk memperkenankan dan meridhoi ilmu yang kita pelajari, sehingga ilmu tersebut dianugrahkan pahala oleh Allah SWT.

“Dan siapa saja yang takut kepada Allah, Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan siapa saja yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.  Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. (QS. Talaq 2-3)

Akhirul kalam, kepada ikhwahfillah, selama ujian. & Semoga sukses .. J

Oleh Cynthia Suci Ayu Yulisia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: