Amanah Dua Kasih

Andika … belajar yang rajin ya…!!! Engkau harus pulang dari negeri orang dengan membawa kemenangan…!!!
Demikian nasehat ibu Andika kepadanya ketika dia hendak melangkahkan kakinya menyeberang untuk mencari ilmu dan pengalaman ke negeri orang. Nasehat itu lahir dari harapan seorang ibu yang menginginkan kesuksesan buah hatinya.  Bagi Andika kata-kata ibunya tidak hanya sekadar nasehat tetapi  amanah yang lahir dari kasihsayang orang paling dicintai dalam hidupnya, yang harus ia pegang.
Dengan semangat yang tinggi Andika tiada henti-hentinya belajar, ruangan kediamannya hanya bisa dilalui oleh telapak kaki karena penuh dengan hamparan buku, tembok ruangannya pun dipenuhi dengan catatan-catatan impian masa depan. Suara music yang selama ini dia gemari berubah menjadi suara lantunan kalam ilahi, dan suara rekaman ceramah atau rekaman hasil seminar yang pernah ia ikuti. Hari-harinya diselimuti oleh hawa ilmu. Tidaklah keluar kata-kata dari mulutnya melainkan lafaz-lafaz cintanya kepada ilmu. rumput yang tumbuh antara tempat tinggalnya dan pustaka, tak mampu lagi berdiri karena injakan kakinya.
Andika punya prinsip bahwa “menuntut ilmu adalah karena ilmu”, bukan karena sesuatu yang bersifat kebendaan. sehingga menurutnya, jika suatu hari nanti dia tindak mendapatkan apa-apapun yang berbentuk materi maka dia tidak akan kecewa, karena dia telah mendapatkan Ilmu. Dengan ilmu aku akan bahagia, dengan ilmu aku akan mengenal Dia,dengan  ilmu akan melahirkan rasa cinta, tunduk dan sujud pada-Nya” gumannya dalam hati.
Bagi Andika ilmu tidak hanya didapat dari belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi juga melibatkan peranan Sang Pemilik Ilmu, oleh karena itu dia selalu bersujud dan berdoa, dan mengalirkan airmata di keheningan malam agar dia diberikan kepahaman dan ditambahkan ilmu kepadanya. Dia juga tidak lupa membaca al-Qur’an karena menurutnya al-Qur’an adalah sumber ilmu, dan menikmati keindahan bahasanya, bergetar tubuh dan rasa takut ketika mendengar ayat-ayat ancaman, bahagia dan berharap ketika mendengar janji-janji yang akan Allah berikan.
Suatu ketika Andika terhenti ketika membaca ayat “kuntum khaira ummatin ukhrijat linnasi ta’muruuna bil ma’ruf  wa tanhauna ‘anil mungkar” (kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada kepada ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar).
Andika tak mampu membendung airmatanya, dadanya terisak dan sesak karena teringat perjuangan rasulullah dalam menyampaikan dakwah, teringat bagaimana darah rasulullah mengalir hanya untuk menyeru umat manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar bukan untuk kepentingan dirinya. Teringat bagaimana pengorbanan rasulullah yang tidak hanya waktu, harta, tetapi juga jiwa dan raga taruhannya.
Andika semakin larut dalam kesedihan dan menyesali diri seraya berkata dalam tangisan, kemana aku selama ini, aku melihat ma’siat disampingku tetapi aku tidak memperdulikan, aku hanya sibuk dengan urusan pribadiku… aku mengaku pengikut nabi tetapi tidak ada yang aku korbankan untuk umat ini, jangankan seperti engkau ya Rasulullah yang rela berkorban untuk kepentingan islam, bahkan nyawa menjadi taruhannya, mengorbankan waktu saja aku tidak sanggup. Untuk berbicara tentang dakwah saja aku bosan. Bahkan aku ingin lari dari dakwah ini karena mengganggu aktivitasku.
Aku egois…
            aku ingin cerdas sendiri tetapi membiarkan orang lain dalam kejahilan. Padahal aku tahu engkau diutus untuk menghapuskan kejahilan dimuka bumi.
            Sudikah engkau melihat kesuksesankanku dengan keegoanku, tanpa diiringi kesuksesan orang lain… aku yakin engkau tidak sudi melihatku…
Aku egoiiissss…

Aku selalu mengutamakan amanah yang di berikan orang tuaku dengan alasan untuk membahagikan mereka, tapi aku lupa dengan amanah yang lebih besar yang engkau berikan padaku, untuk berdakwah dijalanmu.
Andika tersungkur menyentuhkan dahinya kelantai dan berdoa, “ya Allah berikan kekuatan kepadaku untuk menjaga amanah dua kasih, amanah orang tuaku agar aku sukses dalam pendidikan dan amanah rasulku agar aku selalu berdakwah mengikuti jalannya.
 
Sebagian cerita ini fiktif belaka, tetapi adegannya boleh ditiru dalam kehidupan sehari-hari karena tidak berbahaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: