Archive for the ‘Harakah Dakwah’ Category

Agar Bangunan Tetap Kokoh

http://adivictoria1924.files.wordpress.com/2010/02/indahnya-ukhuwah1.jpg?w=440&h=295
Islamedia:Umat islam adalah umat yang satu. Terikat dalam satu ikatan aqidah dan berteduh dalam satu payung yang sama yaitu agama islam. Inilah umat yang akan kekal sampai akhir zaman. Mengemban amanah untuk memimpin serta menyebarkan kedamaian di muka bumi.
Sumber utama sebagai alat pemersatu umat adalah agama Allah, ketika agama ini tertepikan maka akan mengakibatkan timbulnya perpecahan dikalangan umat. Oleh sebab itu ketika menghadapi persoalan diantara sesama harus bersegera kembali kepada pegangan ini.
“Dan berpegang teguhlah kamu pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai’’(QS Ali Imran: 103).

Perpecahan diantara umat islam adalah bencana besar. Karena ketika perpecahan terjadi akan lenyaplah kekuatan dan keutamaan yang seharusnya dimiliki. Akibatnya umat ini menjadi kerdil dan tidak diperhitungkan keberadaanya oleh siapapun. Bahkan cenderung menjadi target bulan-bulanan oleh kaum yang arogan, sebagaimana yang berlaku pada ketika ini.
Rasulullah saw pernah menyatakan bahwa orang mukmin itu adalah bersaudara, dan keadaannya diibaratkan seperti sebuah bangunan yang kokoh dan saling menguatkan diatara satu dengan yang lainnya. Inilah hal yang luar biasa yang diungkapkan oleh orang paling benar ucapannya karena tidak ada yang keluar dari lisannya kecuali berasal dari wahyu.
Pada ketika ini fenomena yang berlaku adalah umat ini belum mampu bersatu. Dikarenakan banyaknya perbedaan pandangan dan pemahaman di antara mereka. Hal sedemikian adalah manusiawi selama tidak bertentangan dengan syari’at pokok. karena manusia hidup dibekali akal yang kemampuannya terbatas, sedangkan hasil kerja akal setiap orang tidak selalu sama. Itulah sebabnya diturunkannya wahyu sebagai petunjuk. Maka segala perbedaan tidak boleh keluar dari pada tuntunan tersebut.
Perbedaan bisa dikategorikan pada dua macam, yang dibolehkan dan dilarang. Perbedaan  yang diperbolehkan adalah perbedaan pada masalah cabang bukan pada masalah pokok dalam agama islam. Masalah pokok adalah yang berkaitan dengan aqidah. Sedangkan perbedaan yang terjadi pada kebanyakan umat islam adalah masalah cabang seperti masalah fikih dan masalah metode gerakan da’wah. Namun masalah yang sedemikian terkadang justru menimbulkan masalah besar dan menjadi punca permusuhan di kalangan umat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman terhadap ajaran islam secara mendalam. Dikarenakan hanya perbedaan antara mazhab fikih, terkadang di antara satu golongan dengan golongan lain saling menyalahkan dan memusuhi. Padahal masalah perbedaan dalam fikih kebanyakannya adalah bagian cabang dan hasil ijtihad. Jadi antara mazhab satu dengan yang lainnya tidak bisa saling menyalahkan. Karena berdasarkan kaidah, hasil ijtihad tidak bisa menggugurkan hasil ijtihad yang lain.
Begitu pula terkadang dikarenakan perbedaan cara berda’wah di kalangan umat islam antara jama’ah (kumpulan) satu dengan jama’ah lainnya saling memusuhi dan saling menjatuhkan. Keadaan yang sedemikian selalu berlanjutan. Padahal perbedaan tersebut bukanlah hal pokok yang mampu membuat pelakunya berdosa besar atau keluar dari ajaran islam. Semua orang islam memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran islam atau berda’wah. Rasulullah saw pernah menyatakan:’sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat”. Jadi untuk menyampaikan risalah tersebut, tentu sesuai kemampuan pribadi setiap muslim. Cara yang dilakukan juga tidak semestinya sama, akan tetapi sesuai pada kemampuan dan pemahamannya. Umat islam dituntut untuk berada dalam jama’ah, karena kekuatan kolektif selalu lebih unggul dibandingkan kekuatan individual. Selama jama’ah tersebut tidak keluar dari aqidah maka semuanya masih sama-sama dibawah naungan islam. Mereka semua adalah bersaudara. Semuanya dituntut untuk saling mencintai dan melindungi.
Inilah uniknya perbedaan di dalam umat ini kalau seandainya perbedaan tersebut masih dibawah tuntunan syari’at. Sangat benar pernyataan Rasulullah saw yang mengibaratkan umat islam seperti bangunan. Logikanya sebuah bangunan itu terbentuk terdiri dari berbagai material. Terdiri dari batu, pasir, besi, semen, keramik, air dan yang lainnya. Tentunya bangunan tersebut tidak akan pernah terbentuk sekiranya materialnya terdiri dari satu macam. Begitu pula umat islam yang terdiri dari berbagai jama’ah namun semuanya akan terkumpul dan saling melengkapi dalam sebuah bangunan. Semuanya menjadi komponen penting dalam mewujudkan bangunan yang kokoh yakni al ummah al islamiyyah. Itulah sebabnya mengapa dikatakan, perbedaan umat ini adalah rahmat.
Ketika ini yang perlu dibenahi pada setiap muslim agar perbedaan tidak menjadi penyebab perpecahan diantaranya adalah: pertama, perlu ditingkatkan rasa ukhuwah islamiyah antara sesama saudara seiman. Kedua, saling menghormati antara sesama. Mewujudkan rasa saling pengertian, memahami bahwa setiap manusia tidak akan terlepas dari salah. Oleh sebab itu perlu adanya saling menasehati jika ada yang melakukan kesalahan sebagaimana disebutkan dalam surat  Al ‘Ashri, juga dilakukan dengan cara yang bijaksana atau hikmah. Ketiga, menjadikan ikatan islam diatas segalanya. Tidak ta’asub pada kelompok tertentu dan merasa paling benar. Karena tugas manusia hanyalah beramal, selama amalan itu berlandasan syari’at maka hanya Allah swt yang berhak untuk menilainya.
Demikianlah jika umat islam bisa menyikapi perbedaan yang ada diantara mereka secara arif dan bijaksana, maka tidak akan terjadi perpecahan. Untuk mewujudkan sebuah bangunan yang kokoh sebagaimana yang diibaratkan oleh Rasulullah saw. Setiap muslim hendaknya berupaya untuk berkontribusi serta berlomba dalam kebaikan untuk menjadi bagian dari pada bangunan tersebut. jika belum mampu berbuat yang sedemikian setidaknya tidak menjadi penghalang atau malah menghancurkan bangunan umat yang sedang dibina.
Kuala Lumpur 2 Desember 2010

Hambari Nursalam
Mahasiswa International Islamic University Malaysia

Shinaa’atul ‘Uquul

oleh: Anis Matta, Lc

Bagaimana mendefinisikan “tarbiyah” dalam tiga kata? Saya yakin, kesulitan akan menanti anda apabila anda mencoba mencari definisi pendidikan dengan kualifikasi seperti tadi dalam berbagai ilmu pendidikan. Saya yakin itu. Mengapa?

Barangkali, dimensi yang termuat dalam kata “tarbiyah” terlalu banyak, dan sulit di rangkum dalam tiga kata. Tapi saya telah menemukan definisi itu. Tarbiyah, menurut Muhammad Quthb dalam Manhaj Tarbiyah Islamiyah, adalah “Seni Membentuk Manusia” atau “Fannu Tasykiilil Insaan“.

Kita semua tahu, dimensi-dimensi manusia yang harus dibentuk; akal, hati, dan badan. Bila ketiga hal itu dilihat dari sisi proses tarbiyah yang telah dilakukan oleh Harakah Islam, patutlah sejenak kita bergembira. Sebab ada banyak angka keberhasilan yang dapat kita lihat, raba, dan rasakan.

Namun, ada satu nampaknya yang harus lebih difokuskan disini. Tantangan untuk merumuskan “Manhajul Badaailil Islamiyah” perlu disikapi lebih jauh dalam bentuk implementasi nyata.

Tantangan itu memerlukan sejumlah SDM Harakah Islamiyah. Dengan kata lain, sudah saatnya Harakah Islam membibitkan “qiyaadah-qiyaadah fikriyah” yang diantara fungsinya adalah merumuskan Al-badaailul Islamiyah tersebut. Sebab sejauh ini, Harakah Islam terbilang berhasil melahirkan qiyaadah ruuhiyahqiyaadah jihadiyah, dan qiyaadah siyaasiyah. Tapi, setelah Harakah Islam berhasil membobol tembok wilayah politik seperti di Indonesia, Turki, Yaman, Yordania, Kuwait, dan lainnya, maka tantangan selanjutnya ditujukan secara langsung kepada basis kepemimpinan pemikiran.

Dalam kaitan itu, semakin terasalah urgensi memberi orientasi baru yang lebih terfokus kepada aspek “fannu shinaa’atul ‘uquul” atau “seni merekayasa akal-akal baru” dalam Harakah Islam. Untuk itu, kita dituntut untuk memahami sejumlah problematika yang menimpa akal kaum Muslimin kebanyakan, konsep strukturisasi tsaqafah Muslim, konseptarbiyah manusia-manusia jenius, dan sebagainya.

Pertimbangannya adalah, Harakah Islam telah berhasil melalui satu tangga dari fase kebangkitannya, yaitu “Yaqizhah Ruuhiyah” atau “kebangkitan spiritual”. Dan kini saatnya kita menaiki anak tangga itu lebih tinggi lagi, yaitu fase “Shawah Fikriyah” atau “kebangkitan pemikiran”. Fase ini berfungsi untuk memberikan kontribusi konseptual pada proses aplikasi Islam secara kaafah dalam konteks kehidupan modern.

Walhasil, kita perlu memperluas wawasan konseptual kita tentang makna tarbiyah, sekaligus mencoba sumber-sumber pengayaan dalam menangani seni merekayasa pemikiran-pemikiran baru Muslim modern, yang mampu memadukan dimensi “Asholah” atau orisinalitas dengan dimensi “mu’aasharah” atau kontemporer.

Dari: Arsitek Peradaban, hal.23-25.

Menumbuhkan Komitmen Terhadap Dakwah

Berdakwah untuk menyeru manusia kepada kebaikan, jika disertai dengan perilaku menyimpang para dai, maka akan menjadi penyakit yang menimbulkan kebimbangan dalam diri. Hal ini juga yang akan mengacaukan hati dan fikiran masyarakat disebabkan mereka mendengar kata-kata yang indah akan tetapi melihat perilaku yang buruk. Di satu sisi, di dalam jiwa mereka berkobar api semangat yang disulut oleh aqidah, namun disisi lain, cahaya hati yang bersumber dari keimanan meredup, lalu padam. Mereka menjadi tidak percaya dengan agama setelah kehilangan kepercayaan kepada para dai yang menyebarkannya.

Kata-kata yang diucapkan mati dan kaku sekalipun terdengar begitu indah, begitu menarik, dan penuh semangat. Kata-kata itu kehilangan makna dan kekuatannya disebabkan ia keluar dari lisan dai yang tidak meyakini kebenaran apa yang diucapkannya. Dia mengucapkannya, tetapi tidak melakukannya. Padahal kekuatan dakwah adalah pada pengamalan, bukan pada hiasan kata-kata. Daya tariknya terletak pada ketulusan, bukan pada keindahan retorika. Ketika itu, kata-kata berubah menjadi kekuatan penggerak yang hidup karena ianya berasal dari jiwa yang hidup (Fi Zhilalil Qur’an, vol.1 hal. 68).

Di dalam bukunya “Komitmen Dai Sejati”, Muhamad Abduh menjelaskan tentang bagaimana menumbuhkan komitmen yang tulus tersebut, diantaranya ialah:

Memahami Kondisi Masa Lalu dan Masa Kini

Masa lalu adalah bagian dari masa kini sehingga tidak mungkin dilupakan begitu saja. Oleh karena itu, setiap orang yang bergabung dengan dakwah harus mendalami lebih jauh dan dalam tentang sejarah kelahiran dan kondisi yang menyertai perkembangan dakwah. Sebab ini akan menguatkan pertautan hatinya dengan dakwah, menambah rasa cintanya terhadap dakwah, dan mendorongnya untuk lebih kuat memegang prinsip-prinsip dakwah.

Singkat cerita, suasana dan nuansa menjelang dan setelah kejatuhan kekhalifahan Turki Utsmani sangatlah memprihatinkan bagi ummat Islam. Propaganda Barat, kristenisasi, perang pemikiran, dan lain sebagainya telah membuat sebagian generasi Muslim saat itu merasa prihatin. Di tambah lagi dengan perseteruan tajam antara dakwah salafi dan tarekat sufi yang keduanya merupakan tren saat itu dengan amsing-masingnya memiliki pendekatan dan penekanan khusus dalam dakwahnya yang terlalu dibesar-besarkan, namun mengabaikan ajaran Islam yang lainnya.

Kemudian hadirlah gerakan dakwah yang mengusung komprehensivitas Islam (Syumuliatul islam) karena menurut mereka, Islam berfungsi sebagai Negara dan bangsa, serta sebagai pemerintah dan ummat. Islam mencakup keluhuran akhlaq dan kekuatan, serta kasih sayang dan keadilan. Islam meliputi kebudayaan dan undang-undang, serta ilmu pengetahuan. Islam mencakup materi dan harta, serta pekerjaan dan kekayaan. Islam mengandung ajaran jihad dan dakwah, serta tentara dan pemikiran. Dan tentunya, Islam berarti aqidah yang lurus serta ibadah yang benar secara seimbang.

Oleh karena itu, siapa pun yang menyempitkan makna dakwah hanya kepada ta’lim dan tarbiyah, atau terlalu menekankan aktivitas politik tanpa memperdulikan aspek ma’nawi, atau terlalu menekankan satu aspek dan melalaikan aspek lainnya, maka itu adalah pemahan yang tidak utuh dan mengkotak-kotakan Islam.

Memahami Akidah yang Menjadi Landasan Dakwah

Setiap dakwah dan aliran memiliki kekhasan yang membuatnya berbeda dengan yang lainnya. Setiap kelompok memiliki akidah yang menjadi landasannya dan pilar-pilar yang menjadi sandarannya. Oleh karena itu, adalah tidak logis jika seseorang bergabung dengan suatu gerakan dakwah tetapi tidak mengetahui landasan dan sandaran pergerakan dakwah tersebut. Jangan-jangan selama ini ia telah bergabung pada sebuah gerakan dengan landasan aqidah yang tidal sesuai dengan ajaran Islam yang murni.

Lalu siapakah dakwah yang kita ikuti ini? Dakwah ini menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai landasan dan sandaran perjuangannya. Dakwah kita adalah dakwah salafi, tarekat sunni, dan hakikat sufi. Sebagaimana ia juga adalah lembaga politik, klub olah raga, serta perusahaan bisnis dan kelembagaan masyarakat. Demikianlah, komprehensivitas Islam telah membentuk komprehensivitas pemikiran kita tentang semua aspek islah (reformasi).

Yakin dengan Tujuan, Sasaran, dan Sarana Dakwah

Rasa kagum dan bangga terhadap dakwah tidaklah cukup untuk dijadikan indikator afiliasi bagi positif seseorang. Sulit dibayangkan bagaimana seseorang dapat memberikan kesetiaan kepada gerakan dakwah jika ia tidak tahu tentang tujuan, sasaran dan sarana dakwah itu sendiri. Jika itu benar, maka bagaimana ia mengenal dakwah yang diusungnya? Apa yang ia dakwahkan ketika ia tidak tahu kemana harus para mad’u-nya harus ia bawa?

Oleh sebab itu, perkara yang harus dilakukan oleh kader dakwah pertama kali adalah dengan mengenali dan mempelajari gerakan dakwah yang diikutinya. Setelah ia mencapai pemahaman yang baik kemudian menerimanya, maka tahap selanjutnya adlah bekerja keras untuk mencapai sasaran dan tujuan dakwah dengan menggunakan sarana-sarana dan mengikuti setiap kegiatan dan pentahapan yang telah ditetapkan dalam gerakan dakwah tersebut.

Komitmen dengan Sikap Dakwah Terhadap Aliran Dakwah yang lain

Syaikh Mustafa Mashyur rahimahullah berkata, “semua kader harus mengetahui bahwa memegang teguh system dan peraturan organisasi adalah masalah prinsipil sehingga aktivitas untuk mencapai tujuan dapat terjamin dan berjalan dengan baik. Menunaikan janji yang pernah diungkapkannya untuk organisasi adalah bagian dari ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT serta termasuk bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT yang terbaik” (dalam Al-Qa’id Al-Qudwah, halaman 92).

Sikap dakwah kita terhadap aliran dakwah kontemporer yang melangkah terlalu jauh dari prinsip-prinsip Islam sehingga menimbulkan perpecahan dan mengacaukan pemikiran harus dinilai dengan prinsip dakwah kita. Jika ada hal yang cocok, kita menerimanya, namun jika ada hal yang berbeda kita menolaknya. Kita percaya bahwa dakwah kita bersifat integral, sehingga sekecil apapun kebaikan yang ada dalam aliran dakwah lain kita akan mengakuinya.

Ringkasan kedua, buku: Komitmen Dai Sejati, karya Muhamad Abduh. Diterbitkan oleh Al-Itishom Cahaya Umat, 2006.

Gombak,

MUA

Januari 2010/ Shafar 1431H

Komitmen Dai Sejati

Ketika begitu banyak tanggung jawab yang harus dipikul dan kesibukan yang harus dituntaskan, seorang da’I bisa saja lupa dengan hakikat komitmennya terhadap dakwah sehingga lalai dengan hak-hak dakwah yang harus ditunaikannya. Dia menzalimi diri sendiri dan tidak membersihkannya, tidak mendidiknya, tidak mengontrol dan mengevaluasi (muhasabah), dan tidak meluruskannya. Bisa saja dial alai dengan hak-hak saudara-saudara seperjuangan dan dakwahnya. Merasa keberatan untuk mengorbankan hartanya dan hanya memberikan sedikit waktu yang tersisa dari semua aktivitasnya di kampus, di rumah, atau pekerjaan dunia lainnya.

Dia menjadi sering terlambat menghadiri liqa jika tidak meninggalkannya, serta meninggalkan tuntutan-tuntutan tarbiyah dan dakwah lainnya seperti meninggalkan dauroh-dauroh, tatsqif, mabit, serta yang sejenisnya. Semua tugasnya dilakukan hanya berdasarkan kecenderungan dan kemauan dirinya.

Untuk itu, adalah penting untuk kembali mengemukakan kepada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan tentang komitmen kita kepada dakwah. Apakah cukup dengan sekedar mendukung dan mengagumi dakwah? Atau apakah cukup hanya dengan bergabung sebagai kadernya? Apakah bentuk peran aktif yang kita berikan terhadap harakah dakwah ini?

Keputusan seseorang untuk bergabung dalam gerakan dakwah menuntut orang tersebut untuk senantiasa meluruskan dan memperbarui komitmennya agar tidak ada lagi awan keraguan yang menyelimuti dirinya. Dalam setiap amal dan aktivitas yang dilakukannya, hendaknya seorang dai senantiasa mengingat bahwa dirinya telah terikat dengan prinsip-prinsip dakwah dan dituntut untuk selalu istiqamah dengan semua aturan dan tata-tertibnya. Terutama jika seorang dai telah mengetahui dan menyadari bahwa dakwah yang digelutinya bersifat Islami, yang mengadopsi prinsip-prinsip dan aturannya dari prinsip-prinsip dan aturan yang diturunkan oleh Allah SWT. Saat itu seorang dai harus menyadari bahwa banyak konsekuensi dan amanah yang harus ditunaikannya dengan sempurna.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka tidak akan banyak dai yang berguguran ditengah jalan.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, fikiran mereka bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat akan terhindarkan.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka dia tidak akan perduli apakah ditempatkan di bagian belakang ataupun depan, apakah sebagai jundi yang tidak dikenal sama sekali ataukah sebagai qiyadah yang harus mengeluarkan keputusan-keputusan.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka tidak akan sisa ruang dihatinya kecuali rasa cinta dan memaafkan kepada saudara-saudara seperjuangannya.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka semua akan sangat menghargai waktu. Tidak akan tersisa waktunya kecuali ia mereka sedang beribadah kepada Allah SWY di sudut mihrab atau sedang berdakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka setiap orang yang kurang kuat komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh dengan komitmennya akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dengan harapan keridloan Allah SWT.

Sesungguhnya jawaban atas pernyataan-pernyataan di atas hanya bisa difahami oleh dua kelompok dai:

Pertama adalah mereka yang telah mengetahui jalan dakwah dan menyadari hakikat komitmennya terhadap dakwah.

Kedua adalah mereka yang kehilangan makna komitmen dalam dakwahnya, dan telah menyimpang dari jalan yang seharusnya ditempuh. Dirinya menjadi lemah dan menyerah kepada realitas hidup sehingga terpengaruh oleh lingkungannya. Padahal semestinya seorang dai-lah yang memberi pengaruh kepada lingkungannya, bukan sebaliknya.

Semakin jauh jalan yang ditempuh seorang dai dari jalan yang semestinya dilaluinya, maka tekadnya akan semakin lemah, komitmen dan kekuatannya akan semakin rapuh, sehingga menyebabkan ia makin terpuruk, lalai dan ceroboh terhadap amanah-amanah dakwah.

Itulah yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam ketika mereka berusaha menyebarkan perasaan kecewa yang mendalam disebabkan harakah tidak menghargai amal-amalnya, rasa putus asa dan malas, serta rasa cinta dunia yang berlebihan didalam diri setiap mujahid.

Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia menganugerahkan kebenaran untuk kita, membuat kita saling mencintai karena keimanan kepada-Nya, dan agar Dia menghias hati-hati kita dengan perasaan cinta dan maaf yang dilandasi dengan keimanan yang kuat kepada-Nya. Serta agar tertanam kebencian dalam diri kita terhadap rasa malas dan kekafiran, kemaksiatan dan kekejian, serta agar Dia menjadikan kita sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk. Amin.

Ringkasan pertama buku: Komitmen Dai Sejati, karya Muhamad Abduh, diterbitkan oleh Al-Itishom Cahaya Umat tahun 2006.

Gombak,

MUA

January 2010/ Safar 1431 H

perasaan kecewa yang mendalam disebabkan harakah tidak menghargai amal-amalnya
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.