Archive for the ‘Harakah Dakwah’ Category

Agar Bangunan Tetap Kokoh

http://adivictoria1924.files.wordpress.com/2010/02/indahnya-ukhuwah1.jpg?w=440&h=295
Islamedia:Umat islam adalah umat yang satu. Terikat dalam satu ikatan aqidah dan berteduh dalam satu payung yang sama yaitu agama islam. Inilah umat yang akan kekal sampai akhir zaman. Mengemban amanah untuk memimpin serta menyebarkan kedamaian di muka bumi.
Sumber utama sebagai alat pemersatu umat adalah agama Allah, ketika agama ini tertepikan maka akan mengakibatkan timbulnya perpecahan dikalangan umat. Oleh sebab itu ketika menghadapi persoalan diantara sesama harus bersegera kembali kepada pegangan ini.
“Dan berpegang teguhlah kamu pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai’’(QS Ali Imran: 103).

Perpecahan diantara umat islam adalah bencana besar. Karena ketika perpecahan terjadi akan lenyaplah kekuatan dan keutamaan yang seharusnya dimiliki. Akibatnya umat ini menjadi kerdil dan tidak diperhitungkan keberadaanya oleh siapapun. Bahkan cenderung menjadi target bulan-bulanan oleh kaum yang arogan, sebagaimana yang berlaku pada ketika ini.
Rasulullah saw pernah menyatakan bahwa orang mukmin itu adalah bersaudara, dan keadaannya diibaratkan seperti sebuah bangunan yang kokoh dan saling menguatkan diatara satu dengan yang lainnya. Inilah hal yang luar biasa yang diungkapkan oleh orang paling benar ucapannya karena tidak ada yang keluar dari lisannya kecuali berasal dari wahyu.
Pada ketika ini fenomena yang berlaku adalah umat ini belum mampu bersatu. Dikarenakan banyaknya perbedaan pandangan dan pemahaman di antara mereka. Hal sedemikian adalah manusiawi selama tidak bertentangan dengan syari’at pokok. karena manusia hidup dibekali akal yang kemampuannya terbatas, sedangkan hasil kerja akal setiap orang tidak selalu sama. Itulah sebabnya diturunkannya wahyu sebagai petunjuk. Maka segala perbedaan tidak boleh keluar dari pada tuntunan tersebut.
Perbedaan bisa dikategorikan pada dua macam, yang dibolehkan dan dilarang. Perbedaan  yang diperbolehkan adalah perbedaan pada masalah cabang bukan pada masalah pokok dalam agama islam. Masalah pokok adalah yang berkaitan dengan aqidah. Sedangkan perbedaan yang terjadi pada kebanyakan umat islam adalah masalah cabang seperti masalah fikih dan masalah metode gerakan da’wah. Namun masalah yang sedemikian terkadang justru menimbulkan masalah besar dan menjadi punca permusuhan di kalangan umat. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pemahaman terhadap ajaran islam secara mendalam. Dikarenakan hanya perbedaan antara mazhab fikih, terkadang di antara satu golongan dengan golongan lain saling menyalahkan dan memusuhi. Padahal masalah perbedaan dalam fikih kebanyakannya adalah bagian cabang dan hasil ijtihad. Jadi antara mazhab satu dengan yang lainnya tidak bisa saling menyalahkan. Karena berdasarkan kaidah, hasil ijtihad tidak bisa menggugurkan hasil ijtihad yang lain.
Begitu pula terkadang dikarenakan perbedaan cara berda’wah di kalangan umat islam antara jama’ah (kumpulan) satu dengan jama’ah lainnya saling memusuhi dan saling menjatuhkan. Keadaan yang sedemikian selalu berlanjutan. Padahal perbedaan tersebut bukanlah hal pokok yang mampu membuat pelakunya berdosa besar atau keluar dari ajaran islam. Semua orang islam memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan ajaran islam atau berda’wah. Rasulullah saw pernah menyatakan:’sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat”. Jadi untuk menyampaikan risalah tersebut, tentu sesuai kemampuan pribadi setiap muslim. Cara yang dilakukan juga tidak semestinya sama, akan tetapi sesuai pada kemampuan dan pemahamannya. Umat islam dituntut untuk berada dalam jama’ah, karena kekuatan kolektif selalu lebih unggul dibandingkan kekuatan individual. Selama jama’ah tersebut tidak keluar dari aqidah maka semuanya masih sama-sama dibawah naungan islam. Mereka semua adalah bersaudara. Semuanya dituntut untuk saling mencintai dan melindungi.
Inilah uniknya perbedaan di dalam umat ini kalau seandainya perbedaan tersebut masih dibawah tuntunan syari’at. Sangat benar pernyataan Rasulullah saw yang mengibaratkan umat islam seperti bangunan. Logikanya sebuah bangunan itu terbentuk terdiri dari berbagai material. Terdiri dari batu, pasir, besi, semen, keramik, air dan yang lainnya. Tentunya bangunan tersebut tidak akan pernah terbentuk sekiranya materialnya terdiri dari satu macam. Begitu pula umat islam yang terdiri dari berbagai jama’ah namun semuanya akan terkumpul dan saling melengkapi dalam sebuah bangunan. Semuanya menjadi komponen penting dalam mewujudkan bangunan yang kokoh yakni al ummah al islamiyyah. Itulah sebabnya mengapa dikatakan, perbedaan umat ini adalah rahmat.
Ketika ini yang perlu dibenahi pada setiap muslim agar perbedaan tidak menjadi penyebab perpecahan diantaranya adalah: pertama, perlu ditingkatkan rasa ukhuwah islamiyah antara sesama saudara seiman. Kedua, saling menghormati antara sesama. Mewujudkan rasa saling pengertian, memahami bahwa setiap manusia tidak akan terlepas dari salah. Oleh sebab itu perlu adanya saling menasehati jika ada yang melakukan kesalahan sebagaimana disebutkan dalam surat  Al ‘Ashri, juga dilakukan dengan cara yang bijaksana atau hikmah. Ketiga, menjadikan ikatan islam diatas segalanya. Tidak ta’asub pada kelompok tertentu dan merasa paling benar. Karena tugas manusia hanyalah beramal, selama amalan itu berlandasan syari’at maka hanya Allah swt yang berhak untuk menilainya.
Demikianlah jika umat islam bisa menyikapi perbedaan yang ada diantara mereka secara arif dan bijaksana, maka tidak akan terjadi perpecahan. Untuk mewujudkan sebuah bangunan yang kokoh sebagaimana yang diibaratkan oleh Rasulullah saw. Setiap muslim hendaknya berupaya untuk berkontribusi serta berlomba dalam kebaikan untuk menjadi bagian dari pada bangunan tersebut. jika belum mampu berbuat yang sedemikian setidaknya tidak menjadi penghalang atau malah menghancurkan bangunan umat yang sedang dibina.
Kuala Lumpur 2 Desember 2010

Hambari Nursalam
Mahasiswa International Islamic University Malaysia

Shinaa’atul ‘Uquul

oleh: Anis Matta, Lc

Bagaimana mendefinisikan “tarbiyah” dalam tiga kata? Saya yakin, kesulitan akan menanti anda apabila anda mencoba mencari definisi pendidikan dengan kualifikasi seperti tadi dalam berbagai ilmu pendidikan. Saya yakin itu. Mengapa?

Barangkali, dimensi yang termuat dalam kata “tarbiyah” terlalu banyak, dan sulit di rangkum dalam tiga kata. Tapi saya telah menemukan definisi itu. Tarbiyah, menurut Muhammad Quthb dalam Manhaj Tarbiyah Islamiyah, adalah “Seni Membentuk Manusia” atau “Fannu Tasykiilil Insaan“.

Kita semua tahu, dimensi-dimensi manusia yang harus dibentuk; akal, hati, dan badan. Bila ketiga hal itu dilihat dari sisi proses tarbiyah yang telah dilakukan oleh Harakah Islam, patutlah sejenak kita bergembira. Sebab ada banyak angka keberhasilan yang dapat kita lihat, raba, dan rasakan.

Namun, ada satu nampaknya yang harus lebih difokuskan disini. Tantangan untuk merumuskan “Manhajul Badaailil Islamiyah” perlu disikapi lebih jauh dalam bentuk implementasi nyata.

Tantangan itu memerlukan sejumlah SDM Harakah Islamiyah. Dengan kata lain, sudah saatnya Harakah Islam membibitkan “qiyaadah-qiyaadah fikriyah” yang diantara fungsinya adalah merumuskan Al-badaailul Islamiyah tersebut. Sebab sejauh ini, Harakah Islam terbilang berhasil melahirkan qiyaadah ruuhiyahqiyaadah jihadiyah, dan qiyaadah siyaasiyah. Tapi, setelah Harakah Islam berhasil membobol tembok wilayah politik seperti di Indonesia, Turki, Yaman, Yordania, Kuwait, dan lainnya, maka tantangan selanjutnya ditujukan secara langsung kepada basis kepemimpinan pemikiran.

Dalam kaitan itu, semakin terasalah urgensi memberi orientasi baru yang lebih terfokus kepada aspek “fannu shinaa’atul ‘uquul” atau “seni merekayasa akal-akal baru” dalam Harakah Islam. Untuk itu, kita dituntut untuk memahami sejumlah problematika yang menimpa akal kaum Muslimin kebanyakan, konsep strukturisasi tsaqafah Muslim, konseptarbiyah manusia-manusia jenius, dan sebagainya.

Pertimbangannya adalah, Harakah Islam telah berhasil melalui satu tangga dari fase kebangkitannya, yaitu “Yaqizhah Ruuhiyah” atau “kebangkitan spiritual”. Dan kini saatnya kita menaiki anak tangga itu lebih tinggi lagi, yaitu fase “Shawah Fikriyah” atau “kebangkitan pemikiran”. Fase ini berfungsi untuk memberikan kontribusi konseptual pada proses aplikasi Islam secara kaafah dalam konteks kehidupan modern.

Walhasil, kita perlu memperluas wawasan konseptual kita tentang makna tarbiyah, sekaligus mencoba sumber-sumber pengayaan dalam menangani seni merekayasa pemikiran-pemikiran baru Muslim modern, yang mampu memadukan dimensi “Asholah” atau orisinalitas dengan dimensi “mu’aasharah” atau kontemporer.

Dari: Arsitek Peradaban, hal.23-25.

Menumbuhkan Komitmen Terhadap Dakwah

Berdakwah untuk menyeru manusia kepada kebaikan, jika disertai dengan perilaku menyimpang para dai, maka akan menjadi penyakit yang menimbulkan kebimbangan dalam diri. Hal ini juga yang akan mengacaukan hati dan fikiran masyarakat disebabkan mereka mendengar kata-kata yang indah akan tetapi melihat perilaku yang buruk. Di satu sisi, di dalam jiwa mereka berkobar api semangat yang disulut oleh aqidah, namun disisi lain, cahaya hati yang bersumber dari keimanan meredup, lalu padam. Mereka menjadi tidak percaya dengan agama setelah kehilangan kepercayaan kepada para dai yang menyebarkannya.

Kata-kata yang diucapkan mati dan kaku sekalipun terdengar begitu indah, begitu menarik, dan penuh semangat. Kata-kata itu kehilangan makna dan kekuatannya disebabkan ia keluar dari lisan dai yang tidak meyakini kebenaran apa yang diucapkannya. Dia mengucapkannya, tetapi tidak melakukannya. Padahal kekuatan dakwah adalah pada pengamalan, bukan pada hiasan kata-kata. Daya tariknya terletak pada ketulusan, bukan pada keindahan retorika. Ketika itu, kata-kata berubah menjadi kekuatan penggerak yang hidup karena ianya berasal dari jiwa yang hidup (Fi Zhilalil Qur’an, vol.1 hal. 68).

Di dalam bukunya “Komitmen Dai Sejati”, Muhamad Abduh menjelaskan tentang bagaimana menumbuhkan komitmen yang tulus tersebut, diantaranya ialah:

Memahami Kondisi Masa Lalu dan Masa Kini

Masa lalu adalah bagian dari masa kini sehingga tidak mungkin dilupakan begitu saja. Oleh karena itu, setiap orang yang bergabung dengan dakwah harus mendalami lebih jauh dan dalam tentang sejarah kelahiran dan kondisi yang menyertai perkembangan dakwah. Sebab ini akan menguatkan pertautan hatinya dengan dakwah, menambah rasa cintanya terhadap dakwah, dan mendorongnya untuk lebih kuat memegang prinsip-prinsip dakwah.

Singkat cerita, suasana dan nuansa menjelang dan setelah kejatuhan kekhalifahan Turki Utsmani sangatlah memprihatinkan bagi ummat Islam. Propaganda Barat, kristenisasi, perang pemikiran, dan lain sebagainya telah membuat sebagian generasi Muslim saat itu merasa prihatin. Di tambah lagi dengan perseteruan tajam antara dakwah salafi dan tarekat sufi yang keduanya merupakan tren saat itu dengan amsing-masingnya memiliki pendekatan dan penekanan khusus dalam dakwahnya yang terlalu dibesar-besarkan, namun mengabaikan ajaran Islam yang lainnya.

Kemudian hadirlah gerakan dakwah yang mengusung komprehensivitas Islam (Syumuliatul islam) karena menurut mereka, Islam berfungsi sebagai Negara dan bangsa, serta sebagai pemerintah dan ummat. Islam mencakup keluhuran akhlaq dan kekuatan, serta kasih sayang dan keadilan. Islam meliputi kebudayaan dan undang-undang, serta ilmu pengetahuan. Islam mencakup materi dan harta, serta pekerjaan dan kekayaan. Islam mengandung ajaran jihad dan dakwah, serta tentara dan pemikiran. Dan tentunya, Islam berarti aqidah yang lurus serta ibadah yang benar secara seimbang.

Oleh karena itu, siapa pun yang menyempitkan makna dakwah hanya kepada ta’lim dan tarbiyah, atau terlalu menekankan aktivitas politik tanpa memperdulikan aspek ma’nawi, atau terlalu menekankan satu aspek dan melalaikan aspek lainnya, maka itu adalah pemahan yang tidak utuh dan mengkotak-kotakan Islam.

Memahami Akidah yang Menjadi Landasan Dakwah

Setiap dakwah dan aliran memiliki kekhasan yang membuatnya berbeda dengan yang lainnya. Setiap kelompok memiliki akidah yang menjadi landasannya dan pilar-pilar yang menjadi sandarannya. Oleh karena itu, adalah tidak logis jika seseorang bergabung dengan suatu gerakan dakwah tetapi tidak mengetahui landasan dan sandaran pergerakan dakwah tersebut. Jangan-jangan selama ini ia telah bergabung pada sebuah gerakan dengan landasan aqidah yang tidal sesuai dengan ajaran Islam yang murni.

Lalu siapakah dakwah yang kita ikuti ini? Dakwah ini menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai landasan dan sandaran perjuangannya. Dakwah kita adalah dakwah salafi, tarekat sunni, dan hakikat sufi. Sebagaimana ia juga adalah lembaga politik, klub olah raga, serta perusahaan bisnis dan kelembagaan masyarakat. Demikianlah, komprehensivitas Islam telah membentuk komprehensivitas pemikiran kita tentang semua aspek islah (reformasi).

Yakin dengan Tujuan, Sasaran, dan Sarana Dakwah

Rasa kagum dan bangga terhadap dakwah tidaklah cukup untuk dijadikan indikator afiliasi bagi positif seseorang. Sulit dibayangkan bagaimana seseorang dapat memberikan kesetiaan kepada gerakan dakwah jika ia tidak tahu tentang tujuan, sasaran dan sarana dakwah itu sendiri. Jika itu benar, maka bagaimana ia mengenal dakwah yang diusungnya? Apa yang ia dakwahkan ketika ia tidak tahu kemana harus para mad’u-nya harus ia bawa?

Oleh sebab itu, perkara yang harus dilakukan oleh kader dakwah pertama kali adalah dengan mengenali dan mempelajari gerakan dakwah yang diikutinya. Setelah ia mencapai pemahaman yang baik kemudian menerimanya, maka tahap selanjutnya adlah bekerja keras untuk mencapai sasaran dan tujuan dakwah dengan menggunakan sarana-sarana dan mengikuti setiap kegiatan dan pentahapan yang telah ditetapkan dalam gerakan dakwah tersebut.

Komitmen dengan Sikap Dakwah Terhadap Aliran Dakwah yang lain

Syaikh Mustafa Mashyur rahimahullah berkata, “semua kader harus mengetahui bahwa memegang teguh system dan peraturan organisasi adalah masalah prinsipil sehingga aktivitas untuk mencapai tujuan dapat terjamin dan berjalan dengan baik. Menunaikan janji yang pernah diungkapkannya untuk organisasi adalah bagian dari ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT serta termasuk bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT yang terbaik” (dalam Al-Qa’id Al-Qudwah, halaman 92).

Sikap dakwah kita terhadap aliran dakwah kontemporer yang melangkah terlalu jauh dari prinsip-prinsip Islam sehingga menimbulkan perpecahan dan mengacaukan pemikiran harus dinilai dengan prinsip dakwah kita. Jika ada hal yang cocok, kita menerimanya, namun jika ada hal yang berbeda kita menolaknya. Kita percaya bahwa dakwah kita bersifat integral, sehingga sekecil apapun kebaikan yang ada dalam aliran dakwah lain kita akan mengakuinya.

Ringkasan kedua, buku: Komitmen Dai Sejati, karya Muhamad Abduh. Diterbitkan oleh Al-Itishom Cahaya Umat, 2006.

Gombak,

MUA

Januari 2010/ Shafar 1431H

Komitmen Dai Sejati

Ketika begitu banyak tanggung jawab yang harus dipikul dan kesibukan yang harus dituntaskan, seorang da’I bisa saja lupa dengan hakikat komitmennya terhadap dakwah sehingga lalai dengan hak-hak dakwah yang harus ditunaikannya. Dia menzalimi diri sendiri dan tidak membersihkannya, tidak mendidiknya, tidak mengontrol dan mengevaluasi (muhasabah), dan tidak meluruskannya. Bisa saja dial alai dengan hak-hak saudara-saudara seperjuangan dan dakwahnya. Merasa keberatan untuk mengorbankan hartanya dan hanya memberikan sedikit waktu yang tersisa dari semua aktivitasnya di kampus, di rumah, atau pekerjaan dunia lainnya.

Dia menjadi sering terlambat menghadiri liqa jika tidak meninggalkannya, serta meninggalkan tuntutan-tuntutan tarbiyah dan dakwah lainnya seperti meninggalkan dauroh-dauroh, tatsqif, mabit, serta yang sejenisnya. Semua tugasnya dilakukan hanya berdasarkan kecenderungan dan kemauan dirinya.

Untuk itu, adalah penting untuk kembali mengemukakan kepada diri sendiri, pertanyaan-pertanyaan tentang komitmen kita kepada dakwah. Apakah cukup dengan sekedar mendukung dan mengagumi dakwah? Atau apakah cukup hanya dengan bergabung sebagai kadernya? Apakah bentuk peran aktif yang kita berikan terhadap harakah dakwah ini?

Keputusan seseorang untuk bergabung dalam gerakan dakwah menuntut orang tersebut untuk senantiasa meluruskan dan memperbarui komitmennya agar tidak ada lagi awan keraguan yang menyelimuti dirinya. Dalam setiap amal dan aktivitas yang dilakukannya, hendaknya seorang dai senantiasa mengingat bahwa dirinya telah terikat dengan prinsip-prinsip dakwah dan dituntut untuk selalu istiqamah dengan semua aturan dan tata-tertibnya. Terutama jika seorang dai telah mengetahui dan menyadari bahwa dakwah yang digelutinya bersifat Islami, yang mengadopsi prinsip-prinsip dan aturannya dari prinsip-prinsip dan aturan yang diturunkan oleh Allah SWT. Saat itu seorang dai harus menyadari bahwa banyak konsekuensi dan amanah yang harus ditunaikannya dengan sempurna.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka tidak akan banyak dai yang berguguran ditengah jalan.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, fikiran mereka bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat akan terhindarkan.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka dia tidak akan perduli apakah ditempatkan di bagian belakang ataupun depan, apakah sebagai jundi yang tidak dikenal sama sekali ataukah sebagai qiyadah yang harus mengeluarkan keputusan-keputusan.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka tidak akan sisa ruang dihatinya kecuali rasa cinta dan memaafkan kepada saudara-saudara seperjuangannya.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka semua akan sangat menghargai waktu. Tidak akan tersisa waktunya kecuali ia mereka sedang beribadah kepada Allah SWY di sudut mihrab atau sedang berdakwah menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Ø Jika komitmen seorang dai benar-benar tulus…., maka setiap orang yang kurang kuat komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh dengan komitmennya akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dengan harapan keridloan Allah SWT.

Sesungguhnya jawaban atas pernyataan-pernyataan di atas hanya bisa difahami oleh dua kelompok dai:

Pertama adalah mereka yang telah mengetahui jalan dakwah dan menyadari hakikat komitmennya terhadap dakwah.

Kedua adalah mereka yang kehilangan makna komitmen dalam dakwahnya, dan telah menyimpang dari jalan yang seharusnya ditempuh. Dirinya menjadi lemah dan menyerah kepada realitas hidup sehingga terpengaruh oleh lingkungannya. Padahal semestinya seorang dai-lah yang memberi pengaruh kepada lingkungannya, bukan sebaliknya.

Semakin jauh jalan yang ditempuh seorang dai dari jalan yang semestinya dilaluinya, maka tekadnya akan semakin lemah, komitmen dan kekuatannya akan semakin rapuh, sehingga menyebabkan ia makin terpuruk, lalai dan ceroboh terhadap amanah-amanah dakwah.

Itulah yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam ketika mereka berusaha menyebarkan perasaan kecewa yang mendalam disebabkan harakah tidak menghargai amal-amalnya, rasa putus asa dan malas, serta rasa cinta dunia yang berlebihan didalam diri setiap mujahid.

Kita memohon kepada Allah SWT agar Dia menganugerahkan kebenaran untuk kita, membuat kita saling mencintai karena keimanan kepada-Nya, dan agar Dia menghias hati-hati kita dengan perasaan cinta dan maaf yang dilandasi dengan keimanan yang kuat kepada-Nya. Serta agar tertanam kebencian dalam diri kita terhadap rasa malas dan kekafiran, kemaksiatan dan kekejian, serta agar Dia menjadikan kita sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk. Amin.

Ringkasan pertama buku: Komitmen Dai Sejati, karya Muhamad Abduh, diterbitkan oleh Al-Itishom Cahaya Umat tahun 2006.

Gombak,

MUA

January 2010/ Safar 1431 H

perasaan kecewa yang mendalam disebabkan harakah tidak menghargai amal-amalnya

Tegar di Jalan Dakwah Menyongsong Mihwar Daulah

Buku Tegar di Jalan Dakwah adalah karya Ust. Cahyadi Takariawan setelah Buku Menyongsong Mihwar Daulah. Tampaknya dua buku ini sengaja ditulis oleh Ust. Cahyadi Takariawan di akhir mihwar muassasi ini –biidznillah- sebagai kontribusi beliau kepada jamaah dakwah dan segenap aktivisnya agar benar-benar siap saat memasuki mihwar daulah nanti. Jika pada buku Menyongsong Mihwar Daulah tertera sub judul Mempersiapkan Kader-Kader Dakwah Menjadi Pemimpin Negara, maka pada buku Tegar di Jalan Dakwah ini dicantumkan sub judul: Bekal Kader Dakwah di Mihwar Daulah.

Sebagaimana tulisan beliau pada buku Menyongsong Mihwar Daulah: Masing-masing orbit saling berhubungan dengan yang lain secara sinergis, dan logika yang digunakan dalam konteks kesinambungan antarorbit ini bukanlah ‘meninggalkan’, melainkan ‘menambah’ dan kesadaran beliau akan: kelemahan dalam sebuah orbit berdampak panjang pada kelemahan di dalam orbit yang lain, maka buku Tegar di Jalan Dakwah bukan saja untuk membekali kader dakwah ketika berada di Mihwar Daulah nanti tetapi juga sebagai langkah antisipasi yang harus dimulai sejak saat ini.

Buku Tegar di Jalan Dakwah ini membahas empat hal besar yang masing-masing dijelaskan dalam bab tersendiri: problematika internal aktivis dakwah, problematika eksternal dakwah, daya tahan di medan dakwah, dan yang tegar di jalan dakwah. Meskipun judulnya problematika, bab 1 dan bab 2 juga mencantumkan solusi pada setiap problematika yang muncul. Solusi pada bab 1 lebih detail dan bersifat aplikatif karena menyangkut permasalahan internal kader, sementara solusi pada bab 2 lebih bersifat global terkait langkah apa yang perlu diambil oleh jamaah dakwah. Bab 3 berisi langkah-langkah sistematis “membangun” dan “menjaga” daya tahan di medan dakwah. Sedangkan bab 4 banyak berisi contoh-contoh dai atau jamaah dakwah yang tegar menghadapi beragam mihnah.

Problematika Internal Aktivis Dakwah

Pembahasan probelmatika internal lebih didahulukan dari pada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.

Problematika internal yang sering dijumpai dalam jamaah dakwah adalah gejolak kejiwaan, ketidakseimbangan aktifitas, latar belakang dan masa lau, penyesuaian diri, dan friksi internal.

Gejolak kejiwaan sebenarnya merupakan persoalan yang dimiliki oleh semua manusia biasa. Dan yang perlu disadari adalah para aktivis dakwah juga manusia biasa. Gejolak ini tidak bisa dimatikan sama sekali, tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak merugikan dakwah dan aktifis dakwah.

Diantara gejolak kejiwaan itu adalah: Pertama, gejolak syahwat. Banyak orang yang terpeleset oleh gejolak ketertarikan pada lawan jenis ini. Bagi mereka yang belum menikah, gejolak ini biasanya lebih besar dan lebih berpeluang “menggoda.” Kedua, gejolak amarah. Seperti kisah Khalid saat menghadapi Jahdam dan pemuka bani Jazimah, gejolak amarah ini bisa berakibat fatal termasuk bagi citra dakwah, hubungan antar aktifis dakwah, dan terjadinya fitnah diantara kaum muslimin. Ketiga, gejolak heroisme. Semangat heroisme memang bagus dan sangat perlu, tetapi ketika sudah tidak proporsional ia akan mendatangkan sikap ekstrem yang berbahaya bagi kemaslahatan dakwah dan umat. Kasus pembunuhan terhadap Nuhaik yang dilakukan Usamah bin Zaid adalah contohnya. Keempat, gejolak kecemburuan. Seperti kecemburuan Anshar pada para mualaf yang mendapatkan hampir semua ghanimah perang Hunain, sikap ini bisa berefek pada melemahnya soliditas internal jamaah. Meskipun yang dicemburui oleh Anshar sebenarnya adalah perhatian Rasulullah dan bukan materi ghanimah-nya, gejolak ini segera diselesaikan Rasulullah karena jika dibiarkan bisa berdampak negatif.

Ketidakseimbangan aktifitas juga menimbulkan problematika tersendiri. Ketidakseimbangan antara aktifitas ruhaniyah dengan aktifitas lapangan, ketidakseimbangan antara dakwah di dalam dengan di luar rumah tangga, ketidakseimbangan antara aktifitas pribadi dengan organisasi, ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan amal siyasi, ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas dengan kuantitas SDM; semuanya bisa berakibat negatif. Tawazun atau kesimbangan yang merupakan asas kehidupan, juga harus dipraktikkan dalam kehidupan berjamaah dan oleh semua aktifis dakwah.

Latar belakang dan masa lalu aktifis yang buruk bisa pula menjadi problematika internal dakwah jika tidak dilakukan langkah-langkah solutif. Latar belakang keagamaan keluarga, misalnya. Ia bisa berbentuk lemahnya tsaqafah Islam, tekanan keluarga yang menentang aktifitas dakwah, dan kerancuan dalam orientasi kehidupan. Sedangkan masa lalu yang “jahiliyah” bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi kredibilitas sang aktifis dakwah. Solusi atas problem ini terangkum dalam kata “mujahadah.” Bagaimana seorang aktifis melakukan muhasabah, menyadari kelemahannya dan melakukan perbaikan diri. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi pengaruhnya bisa dikendalikan.

Problematika internal yang keempat adalah penyesuaian diri. Yakni penyesuaian diri terhadap karakteristik pendekatan dan sikap dakwah yang melekat pada masing-masing marhalah dan orbit dakwah. Sebagaimana corak  dakwah yang berbeda antara fase Makkiyah dan Madaniyah, bahkan masa sirriyah dan jahriyah pada fase Makkah yang juga berbeda, dakwah saat ini juga mengalami hal yang sama; ada tahap-tahapnya. Antara mihwar tanzhimi yang berkonsentrasi pada konsolidasi internal dan mihwar muassasi yang konsen pada perjuangan politik membuat beberapa kader dakwah tidak mampu menyesuaikan diri. Hambatannya bisa karena sifat “kelambanan” kemanusiaan, kecenderungan jiwa, keterbatasan dan perbedaan tsaqafah, sampai keterbatasan kapasitas. Untuk mengatasi problem ini dibutuhkan peran kelembagaan dakwah. Jamaah dakwah perlu melakukan persiapan perubahan fase dakwah, mensosialisasikan cara pandang yang disepakati tentang batas-batas pengembangan dakwah sehingga jelas mana yang termasuk pengembangan (tathwir) dan mana yang termasuk penyimpangan (inhiraf). Jamaah dakwah juga harus mendefinisikan masa yang asholah dan tsawabit, serta mana yang mutaghayyirat.

Problem internal kelima adalah friksi internal. Friksi ini bisa timbul dari lingkungan yang kecil seperti intern sebuah lembaga dakwah, atau antarlembaga, atau antarpersonal pendukung dakwah. Banyak gerakan dakwah yang harus tutup usia dan kini tinggal nama karena problematika ini. Friksi dalam sejarah dakwah memberi beberapa pelajaran penting bagi kita: bahwa friksi merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah, friksi menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri para aktifis dakwah, restrukturiasi dakwah tepat dilakukan terhadap orang-orang yang telah memahami karakter dakwah itu sendiri, friksi juga bukti keberadaan ego manusia, penumbuhan al-wa’yul islami (kesadaran berislam) dan al-wa’yu ad-da’awi (kesadaran dakwah) lebih utama dibandingkan sekedar meletupkan hamasah (semangat) bergerak, dan sangat mungkin friksi timbul karena hadirnya pihak ketiga yang sengaja “memecah” jamaah.

Problematika Eksternal Dakwah

Problematika eksternal dakwah yang bisa menjadi bahaya besar bagi kebaikan bangsa dan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam meliputi problematika spiritual dan kultural, problematika moral, dan problematika sistemik.

Diantara problematika dakwah di Indonesia yang menyangkut aspek spiritual dan kultural adalah: berhala-berhala modern baik berupa teknologi yang dijadikan rujukan kebanaran, sains yang diabsolutkan, materi yang ditaati, maupun kekuasaan yang dipuja-puja; syirik, khurafat dan tahayul yang masih merebak di masyarakat; globalisasi dan dialektika kultural; serta tradisi baik yang sudah tergerus dan tergantikan dengan budaya negatif efek perkembangan peradaban.

Problematika moral diantaranya adalah minuman keras dan penyahgunaan obat-obatan, penyelewenangan seksual, perjudian dan penipuan, serta tindakan brutal dan kekerasan.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan problematika sistemik adalah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), kemiskinan, kebodohan, dan ancaman disintegrasi bangsa.

Daya Tahan di Medan Dakwah

Dakwah yang merupakan jalan panjang dan lintas generasi niscaya memerlukan daya tahan yang permanen. Bagi, individu kader dakwah daya tahan ini jug harus dimiliki agar tetap istiqamah sampai mengakhiri sejarah kehidupannya dengan husnul khatimah. Untuk itu, paling tidak ada lima faktor yang perlu dimiliki para aktifis dakwah untuk merealisir daya tahan di medan dakwah: menguatkan dan membersihkan motivasi, menggapai derajat iman, menggandakan kesabaran, kekuatan ukhuwah, dan dukungan soliditas struktur.

Untuk menguatkan dan membersihkan motivasi kita perlu selalu memahami makna ikhlas dan berupaya mencapainya dengan jalan: senantiasa memperbaharui niat, berusaha keras menunaikan kewajiban, berusaha keras mewujudkan kecintaan kepada Allah, merasakan pengawasan Allah, dan hati-hati dalam beramal.

Untuk mencapai derajat iman kita perlu : memiliki orientasi rabbani, yakni menjadikan seluruh aktifitas selalu berorientasi kepada Allah, dan sebaliknya, berhati-hati terhadap orientasi duniawi. Jika kita mampu mencapai derajat iman ini, maka Allah menjanjikan kemenangan atas musuh, jaminan bahwa orang-orang kafir takkan menguasai, mendapatkan izzah, mendapatkan kehidupan dan rezeki yang baik, menjadi khalifah di muka bumi, serta mendapatkan surga di akhirat nanti.

Untuk bisa menggandakan kesabaran kita perlu memberikan dorongan jiwa untuk mengejar dengan sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesabaran, dan betapa besar buahnya bagi agama dan keduniaan kita serta melawan pengaruh hawa nafsu. Jika kesabaran telah kita miliki maka kita akan mendapatkan hikmahnya yang luar biasa: dijadikan pemimpin, pahala yang besar, kebersamaan Allah, dan mendapatkan berbagai macam kebaikan krn sabar.

Untuk membangun ukhuwah kita perlu memotivasi diri dengan keteladanan ukhuwah di zaman kenabian lalu memperbaiki hubungan sesama aktifis dakwah berlandaskan cinta dan kasih sayang. Kita juga harus meminimalisir penghambat-penghambat ukhuwah. Jika kekuatan ukhuwah ini terbangun kokoh, maka daya tahan kita sebagai aktifis dakwah maupun daya tahan jamaah di medan dakwah akan semakin kokoh.

Sedangkan upaya membangun soliditas struktur paling tidak meliputi konsolidasi manajerial dan konsolidasi operasional. Konsolidasi manajerial dilakukan dengan penataan manajemen yang bagus dan profesional dalam setiap jalur dan lini. Selain mengambil prinsip-prinsip dari Al-Qur’an dan Hadits, prinsip manajemen modern juga bisa diterapkan. Konsolidasi operasional dimaksudkan untuk menyinkronkan berbagai kegiatan dalam skala gerakan, sekaligus senantiasa mengarahkan gerak dakwah kepada tujuan yang ditetapkan. Selain itu, untuk membangun soliditas struktur perlu menghindari hal-hal yang bisa merusaknya yaitu munculnya sekat komunikasi dan lemahnya imunitas struktural (mana’ah tanzhimiyah).

Yang Tegar di Jalan Dakwah

Jalan dakwah ini pasti dipenuhi dengan beragam kesulitan, hambatan, rintangan, tribulasi. Para aktifisnya akan berhadapan dengan beragam mihnah, sebagaimana para dai generasi sebelumnya sejak Rasulullah dan para shahabatnya, tabi’in, tabiut tabi’in, dan seterusnya.

Diantara mihnah itu ada yang berupa ejekan, gelombang fitnah, teror fisik, manisnya rayuan, tekanan keluarga, keterbatasan ekonomi,  kemapanan, sampai kekuasaan. Kader dakwah harus tegar dalam menghadapi semua mihnah itu.

Agar tegar dalam menghadapi ejekan, sadarilah bahwa ejekan kepada Rasulullah jauh lebih hebat; maka biarkan saja semua orang mengejek, tidak perlu diladeni. Agar tegar dalam menghadapi fitnah, tetaplah bekerja dan beramal maka umat akan tahu siapa yang benar dan siapa yang tukang fitnah. Agar tegar dalam menghadapi teror fisik, tawakallah kepada Allah dan berdoalah senantiasa, di samping persiapan lain yang juga perlu dilakukan oleh struktur dakwah. Agar tegar dalam menghadapi manisnya rayuan, jagalah keikhlasan dan senantiasa memperbarui niat, waspada dan tetap bersama jamaah. Agar tegar dalam menghadapi tekanan keluarga, ketegasan harus diutamakan . Iman tidak bisa ditukar dengan keluarga, jika memang itu pilihannya. Agar tegar dalam kondisi kekurangan/keterbatasan ekonomi, bersabar adalah kuncinya. Kekuatan ukhuwah sesama aktifis dakwah juga berperan penting untuk menjaga kita tetap tegar. Agar tegar dalam kemapanan harus memiliki paradigma semakin banyak kekayaan, semakin banyak kontribusi bagi dakwah. Maka yang diteladani adalah Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Agar tegar di puncak kekuasaan, kelurusan orientasi perjuangan, ketaatan pada manhaj dakwah Rasulullah dan keyakinan akan janji-jani-Nya. Dan pada semua mihnah, kedekatan dengan Allah dan tawakkal kepada-Nya merupakan kunci utama agar tegar di jalan dakwah! [Muchlisin]

Sumber: http://muchlisin.blogspot.com/2010/01/tegar-di-jalan-dakwah.html

Pengangguran Haraki

Pengangguran Haraki
Fiqih Dakwah
15/12/2009 | 27 Zulhijjah 1430 H | Hits: 2.281
Oleh: Musyaffa Ahmad Rohim, Lc
——————————————————————————–
Dakwatuna.com – Syeikh Muhammad Ghazali Rahimahullah berkata, “Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan message kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian.”
Ada beragam penyakit tarbawi yang sangat berbahaya, jika ia tersebar dalam barisan dakwah, dan mendapatkan tempat dalam jiwa personelnya, maka pasti yang terjadi adalah keterpurukan, keguguran, menarik diri dan meninggalkan kancah dakwah secara diam-diam, kemudian kebangkrutan dalam arti yang luas dan menyeluruh
Di antara penyakit tersebut dan utamanya adalah al-bithalah ad-da’awiyah (pengangguran da’awi) atau al-kasal al-haraki (kemalasan haraki) atau futur, al-faragh (tidak ada pekerjaan), al-qu’ud ‘anil ‘amal (berpangku tangan), at-taqa’us ‘an ada’ al-wajib (tidak menunaikan kewajiban), at-tanashshul minal qiyam bil maham ad-da’awiyah (tidak menjalankan tugas-tugas da’wah) yang sangat beragam, istimra’ halat ar-rahah (terbiasa menikmati suasana santai), at-taharrur min tahammul at-tabi’ah wal mas-uliyyah (berlepas diri dari upaya memikul beban dan tanggung jawab).
Semua tadi merupakan gejala satu penyakit yang jika menimpa para aktivis di medan dakwah dan harakah, niscaya menimpa pada posisi yang mematikan, kecuali jika segera mendapatkan kebangkitan hati, atau mengambil ibrah dari suatu mau’izhah, atau mengambil manfaat dari suatu nasihat, dan tentunya, sebelum, saat dan setelah itu ia mendapatkan rahmat, kebersamaan dan taufiq Allah SWT.
Berdasarkan pengalaman dan mu’ayasyah (interaksi) tampak bahwa ada sejumlah faktor yang memberi andil bagi terjadinya penyakit ini, utamanya adalah:
■Menurunnya tingkat keikhlasan dan masuknya niat yang tidak baik.
■Ada masalah pada unsur-unsur pemahaman
■Tidak mengetahui jati diri dakwah dan harakah
■Merespon berbagai godaan dunia dan mengejar kemilauannya yang palsu
■Melupakan ghayah, atau inhiraf dan lalai darinya
■Putus asa, frustasi dan memprediksi keburukan
■Mengambang dan target yang tidak jelas
■Tidak interaktif dengan proses tarbawi
■Menghilangnya akhlaq yang menjadi tuntutan marhalah, seperti: tsabat, sabar, tsiqah, tajarrud, tadh-hiyah dan lainnya.
■Melemahnya rasa tanggung jawab
■Merasa panjang perjalanan dakwah yang mesti ditempuh
■Menghilangnya semangat dan padamnya bara keinginan untuk beramal
■Rancunya jenjang prioritas, kalaupun masih ada, dakwah ditempatkan pada posisi prioritas paling akhir
■Berkaratnya sisi ruhani, tarbawi dan imani serta rusaknya komitmen
■Buntunya selera beramal serta tidak merasakan kelezatan mengerahkan jerih payah fi sabilillah
■Hilangnya citarasa berlelah dan bersungguh-sungguh beramal di berbagai medan dakwah
■Kehilangan rasa ber-intima’ kepada dakwah dan harakah dan semakin kurusnya unsur-unsur wala’ kepadanya.
■Tertutupnya bentuk izzah kepada manhaj dakwah dan dinginnya ghirah terhadapnya
■Melemahnya immunitas fikriyah, imaniyah dan tarbawiyah
Semua faktor, sebab ini mendorong seseorang untuk qu’ud (berpangku tangan), menarik diri, menjauh dari lapangan amal dan membikin-bikin alas an untuknya. Karenanya, seseorang yang seperti ini akan menjadi beban berat dakwah dan harakah. Akibat berikutnya, dakwah semakin merintih karena memikul bebannya dan menyeretnya, padahal seharusnya, orang itulah yang semestinya memikul dakwah serta membawanya kepada cakrawala masa depan yang luas
Jika penyakit pengangguran da’awi dan haraki menyebar, akan muncullah ribuan perilaku-perilaku rendah, baik dalam skala perseorangan maupun jama’i, sebab, “barisan yang didalamnya tersebar pengangguran, maka akan banyaknya kerusuhan” dan “rumah yang kosong, akan banyak kebisingan.”
Maka hendaklah para pembawa panji dakwah dan harakah tidak berhenti di tengah jalan. Jangan pula semangatnya mendingin dan efektivitasnya padam setiap kali berhembus angin keputusasaan. Jangan pula harakahnya lumpuh, jalannya terhenti dan arahnya berubah saat bertiup badai fitnah, sebab mereka mengetahui bahwa, “Sifat mulia terkait dengan hal-hal yang tidak disukai, dan kebahagiaan tidak dapat dicapai kecuali melalui jembatan kesulitan, karenanya, tidak mengantarkan untuk mencapainya kecuali menggunakan kapal keseriusan dan kesungguhan.”
Tidak ada kegiatan bagi pasukan infantry adalah ghaflah. Di antara penghancur tekad adalah mimpi yang terlalu jauh dan senang bersantai-santai. Angan-angan hendaklah diiringi amal, jika tidak, ia hanyalah sekedar mimpi yang terpulang kepada pemiliknya. Suatu hari Alhasan al-bashri melihat seorang pemuda yang bermain-main dengan batu kecil sambil berdoa, “Ya Allah, nikahkan aku dengan bidadari”, maka Al-Hasan berkata, “Anda adalah pelamar yang paling buruk, melamar bidadari dengan modal main-main batu kecil!”
Begitu juga dengan kita, tidak mungkin kita melamar cinta kasih tamkin, taghyir dan ishlah sementara kita bermain-main dengan sesuatu yang lebih rendah dari batu kecil, sementara itu kita adalah para penganggur, bermalas-malasan, dan cukup menjadi penonton, sebab, seorang pelamar mestilah membawa mahar, dan “siapa yang meminang wanita cantik, maka ia tidak mempedulikan mahalnya mahar.” Dan sebagaimana dinyatakan oleh imam Al-Banna rahimahullah:
“Saya dapat membayangkan seorang mujahid adalah seseorang yang menyiapkan segala yang diperlukannya, membawa yang diperlukannya, niat jihad telah memenuhi seluruh jiwa dan hatinya, selalu dipikirkan, memberi perhatian besar, selalu dalam posisi siap, jika diundang memenuhi, jika dipanggil menyambut, paginya, petangnya, pembicaraannya, omongannya, kesungguhannya dan main-mainnya tidak melampaui medan yang ia telah persiapkan dirinya untuknya, dan ia tidak mengambil selain fungsi yang sesuai dengan kehidupan dan kehendaknya. Spirit berjihad fi sabilillah dapat dibaca dari garis-garis wajahnya, tampak dalam kilatan sinar matanya, dan terdengar dari celetukan lisannya sesuatu yang menggambarkan betapa besar gelora yang ada dalam hatinya, gelora yang selalu ada, menjadi duka hatinya yang terpendam. Juga terbaca dari jiwanya yang bertekad membaja, semangat tinggi dan cita-cita yang jauh. Itulah sosok mujahid, secara personal maupun bangsa. Engkau dapat melihatnya secara jelas pada suatu bangsa yang menyiapkan dirinya untuk berjihad tampak pada forum-forumnya dan klub-klubnya, tampak di pasar dan di jalan, terasa di sekolah, di rumah, terlihat pada generasi muda dan tua, lelaki dan wanita, sehingga anda membayangkan bahwa semua tempat merupakan medan, dan setiap gerakan adalah jihad.
Saya dapat membayangkan hal ini karena jihad merupakan buah dari pemahaman yang melahirkan perasaan, menghilangkan ghaflah, perasaan membangkitkan perhatian dan kebangkitan, dan perhatian berdampak kepada jihad dan amal. Dan masing-masing mempunyai dampak dan penampilan
Adapun mujahid yang tidur sekenyangnya, makan sepuasnya, tertawa sekerasnya dan menghabiskan waktu untuk bermain-main, maka bagaimana mungkin termasuk yang beruntung atau terhitung dalam barisan mujahidin?!”
Umat yang berpandangan bahwa perannya dalam berjihad hanyalah kosa kata yang diucapkan, atau makalah yang ditulis, lalu jika hati mereka diperiksa ternyata kosong, saat diuji perhatiannya melompong, tenggelam dalam ghaflah dan tidur yang molor, maka tempat, forum dan klub mereka tidak ditemui selain hal-hal tidak berguna, ketidakseriusan, main-main, hiburan dan menghabiskan waktu tanpa guna. Seluruh perhatian perseorangannya hanyalah kesenangan yang fana, kelezatan semu, bersantai-santai dan bersenang-senang, maka umat yang seperti ini lebih dekat kepada main-main daripada serius dan bahkan tidak mengenal keseriusan sama sekali.
Jadi, pengangguran adalah jalan kebangkrutan, sementara kepeloporan, kepemimpinan dan ketokohan tidak dapat diraih kecuali dengan keseriusan dan kesungguhan dan tidak dapat dicapai kecuali dengan segudang pengorbanan. Hal ini terbukti secara praktis sepanjang sejarah dan seorang aktivis dakwah dan harakah semestinya merupakan bagian dari mata rantai emas para nabi, rasul, sahabat, tabiin, ulama dan dai aktivis, karenanya, ia tidak akan mendapatkan kehormatan sebagai anggota dan diberi kartu keanggotaan kecuali jika ia telah membayar. Dan Ibnu Qayyim lebih berterus terang daripada saya, sebab ia memandang seseorang yang mengklaim menjadi bagian dari mata rantai mulia ini tanpa memberi bukti sebagai bentuk kebancian tekad. Beliau berkata:

“Wahai seseorang yang bertekad banci, di manakah kamu berada? Sementara jalan yang akan kamu tempuh adalah jalan di mana nabi Adam telah capek, nabi Nuh telah kehabisan suara, nabi Ibrahim telah dilemparkan ke dalam api, nabi Ismail telah digeletakkan untuk disembelih, nabi Yusuf telah dijual murah dan mendekam beberapa tahun dalam penjara, nabi Zakariya telah digergaji, nabi Yahya telah disembelih, nabi Ayyub telah menderita, nabi Daud telah melebihi kadar dalam menangis, nabi Isa telah berjalan sendirian dan nabi kita Muhammad SAW telah bergelut dengan berbagai kemiskinan dan berbagai rasa sakit, sedangkan engkau berbangga dengan hal-hal tidak berguna dan main-main??!!”

(Terjemahan Artikel Jamal Zawari Ahmad, Sumber: http://www.islameiat.com/main/?c=54&a=3954)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.